BisnisZone Featured

Mobil Ikan dari Aceh Dihadang Masuk Tapteng, Janner: Itu Tindakan Melawan Hukum

Sibolga | Ketua LSM Metro Watch Sibolga-Tapteng, Janner Silitonga, mengecam aksi penghadangan puluhan truk ikan berpendingin (thermoking) dari Aceh memasuki wilayah Tapanuli Tengah (Tapteng), oleh petugas Dinas Perhubungan dan Satpol PP yang melaksanakan razia.

Janner menilai, aksi tersebut sebagai tindakan arogansi dan melanggar hukum. Melanggar konstitusi di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Miris saya melihatnya, mobil ikan dari Aceh untuk mendistribusikan hasil bumi berupa ikan dilarang masuk ke Sibolga atau Tapteng. Ini tindakan melawan undang-undang,” ujar Janner kepada wartawan, Selasa (12/9/2019).

Janner meminta aparat penegak hukum, yakni kepolisian harus bersikap, dan melakukan tindakan yang tegas, demi terciptanya iklim usaha yang kondusif di Sibolga-Tapteng.

“Jadi, siapa saja yang memenuhi unsur melanggar aturan dan ketentuan perundang-undangan, terlepas siapa oknumnya, petugas kepolisian wajib mengambil sikap tegas tanpa pandang bulu, dan melindungi para pelaku usaha sesuai aturan yang berlaku,” beber Janner.

Dia menambahkan, sampai sekarang belum ada aturan yang melarang perdagangan antar daerah, kecuali perdagangan barang ilegal.

Lantas, bagaimana jika sebaliknya, nelayan Sibolga atau Tapteng dilarang memasuki perairan Aceh? Atau hasil bumi dari Sibolga atau Tapteng dilarang masuk pasar daerah lain?

Tentunya, ini akan berdampak buruk pada kelangsungan distribusi komoditas untuk kepentingan publik. Maka itu, Janner meminta aksi pelarangan semena-mena tersebut dihentikan.

“Selama belum ada regulasi apa pun yang dilanggar mengenai perdagangan ekonomi lintas daerah, maka siapa saja bisa, dan berhak melakukan kegiatan pendistribusian hasil kekayaan bumi dan laut sesuai ketentuan,” katanya.

BACA JUGA:  Aksi Penghadangan Mobil Ikan dari Aceh ke Sibolga “Tebang Pilih”

Melansir tribunnews.com, Selasa (11/9/2019), puluhan truk pengangkut ikan dari Aceh dicegat masuk ke Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, tepatnya di Desa Andam Dewi, Kecamatan Barus.

Truk-truk bermuatan 4-6 ton itu dicegat oleh petugas Dinas Perhubungan (Dishub) dan Satpol PP yang melaksanakan razia di sejumlah titik desa sejak Sabtu (7/9/2019) malam lalu.

Informasi tentang adanya penghadangan ini diungkapkan Sekretaris Asosiasi Pedagang Ikan Intersulair (ASPI) Aceh, HT Tarmizi.

Dia mengaku telah menghubungi para sopir truk menanyakan alasan pencegatan, namun para sopir juga mengaku tidak tahu menahu, karena mereka tidak diberi penjelasan oleh pihak Dishub Tapanuli Tengah.

Tarmizi mengungkapkan, hingga kemarin, truk-truk tersebut masih tertahan di beberapa titik.

Para sopir ada yang memilih bertahan di pinggir jalan, dan sebagian lagi ada yang menumpang duduk di warung atau rumah-rumah warga setempat sambil menunggu diizinkan masuk.

“Mereka sudah ada yang bertahan di sana sejak dua hari lalu,” ungkap Tarmizi.

Pihaknya sangat menyayangkan adanya penghadangan itu, apalagi dilakukan secara semena-mena tanpa alasan yang jelas.

“Kami berani katakan semena-mena, karena semua surat-surat, mulai dari karantina dan berbagai surat lainnya sudah lengkap. Jadi sebenarnya apa alasan dibalik penghadangan ini?” ucap Tarmizi heran.

penulis: putma
editor: wan

Tags
Back to top button
Close