Pedagang di Pasar Sibolga Nauli. (foto: syaiful)

Sibolga | Sejumlah pedagang mengeluh, penghasilannya menurun akibat terimbas dari Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 02 Tahun 2015 dan Nomor 71 Tahun 2016. Lho, kok bisa?

Muhsin Siregar, pedagang sembako di Pasar Sibolga Nauli mengaku, beberapa pelanggannya adalah nelayan dan juga pemilik kapal yang tidak lagi memesan sembako di tokonya.

Loading...

“Bagi kita, dampaknya sebetulnya sangat tinggi, apalagi dana kita ini dana berputar. Akibat Permen KP, otomatis siklus pemutaran barang yang ada, karena kapal-kapal ini hampir separuhnya datang ke saya, mau tak mau sangkut semua ini,” kata Muhsin kepada wartawan, Senin (21/10/2019).

Menurut Muhsin, dampak Permen KP tidak saja merugikan anak buah kapal (ABK) dan pemilik kapal, melainkan mata rantai antara pedagang dengan nelayan juga sangat berpengaruh besar.

BACA JUGA:  Aksi Penghadangan Mobil Ikan dari Aceh ke Sibolga “Tebang Pilih”

“Putaran perdagangan kita kan, dengan mencukupi kebutuhan mereka, yah kita hitung aja kebutuhan nya perhari dikali 30 orang. Intinya, begitu kapal itu berangkat, barang kita sudah pindah ke atas kapal untuk mencukupi hidup selama 40 hari di laut,” ucapnya.

Terpisah, Suwarni Tambunan, pedagang ikan di Pasar Sibolga Nauli juga menyebut, pedagang ikan terpaksa memasok ikan dari luar daerah akibat tidak beroperasinya pukat ikan (PI) di Sibolga.

“Karena kami kan kebanyakan dari situ yang dapat banyak ikan dari PI itu. Kalau tak ada PI ini terpaksa kita ngambil ikan dari luar, seperti dari Batubara, Belawan biar pun mahal-mahal,” tuturnya.

penulis: syaiful
editor: wan

KOMENTAR ANDA
Loading...